Dinamika Etnis Bugis-Makassar dan Buton di Rantau Indonesia Timur

Afandri Adya

Seorang Perempuan Mengerjakan Sarung Tenun Samarinda Seorang Perempuan Mengerjakan Sarung Tenun Samarinda

Di Indonesia Timur, etnis Bugis, Makassar, dan Buton dikenal sebagai kelompok masyarakat yang banyak melahirkan pengusaha tangguh. Mereka tak hanya mengisi pasar-pasar di Sulawesi, namun juga di Kalimantan, Maluku, dan Papua. Menurut catatan sejarah, migrasi orang-orang Makassar ke seberang lautan terjadi setelah berlangsungnya Perjanjian Bongaya di tahun 1667. Tak lama kemudian masyarakat Bugis yang tak puas dengan kondisi politik di Sulawesi Selatan mengikuti jejak saudaranya untuk pergi merantau. Sedangkan etnis Buton yang berasal dari Sulawesi Tenggara, baru melakukan migrasi secara besar-besaran setelah masa kemerdekaan. Sehingga di perantauan populasi dan pencapaian mereka tak terlampau mencolok. Ada beberapa faktor yang menyebabkan berpindahnya kelompok etnis dari Sulawesi bagian selatan ini ke wilayah-wilayah lainnya di Indonesia Timur. Namun dari semua faktor itu, yang terpenting ialah besarnya peluang ekonomi, terutama di bidang perdagangan. Oleh karenanya di beberapa tempat dan pada waktu tertentu, dalam perebutan kue ekonomi itu sering terjadi…

Lihat pos aslinya 2.055 kata lagi

Kampung nelayan “JEMPUR”

Tendri_DKP SORONG

image

Kampung nelayan “JEMPUR”
By Tendri

Kampung nelayan “JEMPUR” (Jembatan Puri) adalah salah satu daerah tempat pemukiman penduduk yang ada di Kota Sorong, Papua Barat, terdapat lebih dari 300 kk yang ada di kampung nelayan ini.

Seperti namanya, sebagian besar mata pencaharian penduduk adalah nelayan. Dan banyak ibu rumah tangga yang membantu suaminya mencari nafkah dengan menjual ikan yang biasanya mereka jemur di teras rumah mereka.

Lihat pos aslinya

Hentikan Sandiwara Freeport

https://m.youtube.com/watch?feature=youtu.be&v=p2Zr1Xgdmzg

Hentikan Sandiwara Freeport

Kisruh Freeport yang melibatkan Ketua DPR Setya Novanto dan Menteri ESDM Sudirman Said dinilai Ketua Umum HIPMI Bahlil Lahadalia sebagai perilaku pejabat yang tidak mendidik masyarakat. Bahkan melukai rakyat.

Bahlil mendesak agar ‘sandiwara’ itu segera dihentikan atau diakhiri. Selanjutnya pemerintah diminta mengupayakan agar pertambangan tembaga dan emas yang dioperasikan Freeport memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi bangsa, terutama masyarakat Papua.

Bahlil yang juga tokoh pengusaha muda asal Papua ini mengatakan hal itu di Jakarta, Sabtu malam 21 November 2015. Dia mengingatkan keberadaan Freeport harus bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat Papua.